Dua Hari Bungkam, Kabag Umum Pendopo Sampang Seolah Melindungi Maling, Akses CCTV Sengaja DIkonci.
SAMPANG, seputarhukumindonesia.com-Bobroknya sistem keamanan di Pendopo Kabupaten Sampang pasca-pencurian uang jutaan rupiah di ruang VVIP Peringgitan Dalam, kini berubah menjadi drama “cuci tangan” massal. Pejabat yang seharusnya bertanggung jawab penuh atas kenyamanan dan keamanan fasilitas negara tersebut, kini justru memilih bersembunyi di balik tembok keheningan.,/Selasa/26/05/26.
Selama dua hari kerja berturut-turut, terhitung sejak Senin (25/05/2026) hingga Selasa (26/05/2026), Revelino Dias Steny selaku Kepala Bagian (Kabag) Umum Penanggung Jawab Pendopo Bupati Sampang, mendadak “hilang ditelan bumi”. Upaya konfirmasi yang dilayangkan awak media guna menuntut transparansi penanganan kasus ini sama sekali tidak direspons. Ponselnya mati, pesan digitalnya diabaikan, seolah-olah menganggap remeh peristiwa kriminal yang mencoreng wajah pemerintahan Sampang ini.
Sikap pengecut dan abai yang dipertontonkan oleh seorang pejabat publik selama 48 jam terakhir ini memicu kecurigaan liar di tengah masyarakat.
Kejanggalan semakin beraroma menyengat ketika hak korban untuk mengakses rekaman Closed Circuit Television (CCTV) di lokasi kejadian dipersulit bahkan tidak bisa dijangkau. Alasan birokrasi yang berbelit hingga pembatasan akses CCTV di area sensitif tersebut memunculkan spekulasi miring: Apakah ada upaya sistematis untuk menghapus jejak digital pelaku yang diduga kuat merupakan “orang dalam”?
“Dua hari kami dioper sana-sini seperti bola liar, sementara Kabag Umum bungkam seribu bahasa. Akses CCTV ditutup rapat seolah itu dokumen rahasia negara, padahal itu bukti tindak pidana! Kalau bersih, kenapa harus risih? Kenapa rekaman itu seperti sengaja disembunyikan?” cecar seorang kerabat korban dengan nada geram.
Publik menilai, sikap menghindar yang ditunjukkan Kabag Umum bukan lagi sekadar bentuk kelalaian kerja, melainkan indikasi kuat adanya upaya pembiaran. Menutup mata selama dua hari kerja atas kasus pencurian di dalam rumah dinas bupati adalah bentuk penghinaan terhadap rasa keadilan korban.
Pendopo Sampang: Mewah di Luar, Keropos dan Penuh Intrik di Dalam
Kasus ini membuka kedok asli manajemen Pendopo Sampang. Tempat yang seharusnya menjadi simbol kewibawaan daerah, kini tak ubahnya seperti pasar malam yang bebas dimasuki maling tanpa jejak. Lebih ironis lagi, ketika kejahatan terjadi, para pemangku kebijakan justru sibuk menyelamatkan muka sendiri ketimbang menyelesaikan masalah.(JZL)

