Transparansi Dipertanyakan, Publik Soroti Mekanisme Gift di Final D’Academy 7
SAMPANG | Seputarhukumindonesia.com – Final D’Academy 7 yang ditayangkan Indosiar pada dini hari kemarin menyisakan polemik. Tasya, kontestan asal Tangerang, dinobatkan sebagai juara pertama dengan raihan lebih dari 400 ribu poin.
Sementara Valen, pedangdut muda dari Pamekasan, Madura, menempati posisi runner-up dengan perolehan sekitar 350 ribu poin.
Penentuan juara dilakukan melalui akumulasi virtual gift dari penonton yang ditampilkan secara real time melalui aplikasi Vidio.
Secara sistem, mekanisme ini di klaim transparan. Namun di ruang publik digital, hasil akhir justru memicu gelombang pertanyaan dari netizen dan pendukung salah satu kontestan.
Sorotan utama tertuju pada lonjakan gift bernilai besar yang diterima Tasya, terutama dari kategori D’Sultan dan D’Bos.
Sejak babak tiga besar, Tasya unggul signifikan dalam akumulasi saweran digital. Namun, publik mempertanyakan identitas akun penyawer yang dinilai tidak lazim: nama-nama asing, minim informasi asal wilayah, serta tidak memiliki keterkaitan sosial yang mudah di verifikasi.
Sebaliknya, dukungan untuk Valen terlihat lebih organik. Gift yang masuk berasal dari berbagai latar belakang tokoh masyarakat, pejabat publik, pengusaha, komunitas UMKM, hingga individu perorangan.
Dukungan tersebut juga menyebar lintas wilayah, dari Madura, Jawa, Kalimantan, Sumatra, hingga luar negeri seperti Taiwan dan Mekkah, dengan identitas pengirim dan lokasi relatif jelas terbaca di aplikasi.
Cak Nawardi, salah satu pendukung Valen yang juga mengirimkan gift kategori premium, menyebut situasi tersebut menimbulkan kesan ketimpangan.
“Nama pengirim gift untuk Valen jelas dan bisa ditelusuri secara sosial. Sementara di sisi lain, kami seperti berhadapan dengan saweran yang terasa mekanistik,” ujar Senator DPD RI utusan Jatim ini, lewat akun WhatsApp pribadinya yang diterima media Seputarhukumindonesia.com, Sabtu (27/12/2025).
Menurutnya, kontestasi hiburan yang melibatkan partisipasi publik seharusnya menjaga keadilan persepsi, bukan sekadar menampilkan angka.
Ia menilai Indosiar secara tidak langsung telah membuka ruang kompetisi yang memicu sentimen kedaerahan, namun belum diimbangi dengan transparansi yang memadai pada aspek paling krusial, yakni keabsahan sumber dukungan digital.
Polemik ini menunjukkan tantangan baru dalam industri hiburan berbasis interaksi digital. Ketika penonton tidak hanya menjadi audiens, tetapi juga “penentu hasil” melalui transaksi ekonomi, maka akuntabilitas sistem menjadi tuntutan utama.
Transparansi tidak cukup berhenti pada visualisasi poin, melainkan juga pada kejelasan mekanisme dan identitas yang membangun kepercayaan publik.
Para pendukung Valen dalam hal ini menegaskan bahwa persoalannya bukan soal menerima atau menolak kekalahan.
“Valen mungkin runner-up secara angka, tetapi di mata publik ia tetap juara. Yang kami tuntut adalah kejujuran sistem, agar kontestasi berikutnya tidak kehilangan legitimasi,” tegas Cak Nawardi yang memberikan dukungan D’Sultan dan D’Bos pada Valen.
Hingga berita ini ditulis, pihak Indosiar belum memberikan penjelasan resmi terkait identitas penyawer gift bernilai besar tersebut.
Publik kini menunggu, apakah polemik ini akan di jawab dengan klarifikasi terbuka, atau justru dibiarkan menjadi preseden baru dalam kompetisi hiburan televisi berbasis ekonomi digital. (Yan’S)

