Valen Pamekasan, Juara di Hati ; Korban Skenario, ataukah Plot Twist Industri?
SAMPANG | Seputarhukumindonesia.com – Dunia kompetisi dangdut tanah air kembali memanas. Bukan hanya soal adu cengkok atau teknik vokal, namun soal drama di balik layar yang menyisakan tanda tanya besar bagi para penonton setia Dangdut Academy 7 (DA 7).
Sosok yang menjadi pusat perhatian adalah Valen Pamekasan, talenta muda asal Madura yang perjalanannya di panggung megah tersebut berakhir dengan sebuah “Plot Twist” yang pahit bagi para pendukungnya.
Sejak awal kemunculannya, Valen bukan sekadar peserta biasa, namun Ia adalah magnet. Dengan karakter vokal yang matang dan kemampuannya “bercerita” di setiap bait lagu, Valen diprediksi oleh banyak pihak akan melenggang mulus ke tahta juara.
Namun, kenyataan di atas panggung seringkali lebih rumit daripada sekadar kualitas suara.
Puncak kekecewaan penggemar terjadi saat Konser Kemenangan, di mana Valen harus merelakan posisi puncaknya kalah dalam perolehan virtual gifts.
Dan dari sinilah muncul kecurigaan adanya “Plot Twist” yang di skenariokan.
Banyak penonton mencium kejanggalan pada pergerakan angka gift yang tiba-tiba melesat untuk lawan bicaranya, Tasya.
Beberapa poin yang menjadi sorotan publik, diantaranya masalah identitas pemberi Gift serta nama-nama “Sultan” yang muncul terasa asing, tanpa rekam jejak di komunitas fans resmi dan seolah muncul entah dari mana di menit-menit terakhir.
Logika promosi secara umum, penyumbang besar (Sultan ; red) biasanya mencari pengakuan atau branding, namun dalam momen ini, para pemberi gift tersebut terasa “gaib” dan bergerak secara mekanis.
Kebutuhan rating: industri televisi membutuhkan ketegangan. Skor yang terlalu timpang atau pemenang yang terlalu mudah ditebak dianggap tidak menjual.
Dari ini semua, maka drama “kejar-kejaran angka” adalah bumbu utama untuk menjaga engagement penonton tetap tinggi.
Apakah ini murni kemenangan dukungan massa, ataukah Valen hanya menjadi “pion” dalam skenario besar demi menaikkan tensi acara?
Dalam industri hiburan, batas antara realitas dan scripted drama memang sangat tipis.
Banyak yang berpendapat bahwa Valen “dikalahkan” oleh sistem dan algoritma, bukan oleh kualitas vokal.
Namun, di balik rasa sesak para penggemar, ada sebuah pelajaran penting, bahwa popularitas yang lahir dari simpati publik jauh lebih abadi daripada piala yang didapat dari drama.
Akhir yang menjadi awal kekecewaan ini justru akan menjadi modal besar bagi seorang Valen.
Sejarah mencatat, bahwa banyak bintang besar lahir bukan dari podium juara pertama, melainkan dari mereka yang “tersingkir secara terhormat” dan meninggalkan kesan mendalam di hati masyarakat.
Valen Pamekasan mungkin kalah dalam angka digital dan “Sultan Gaib”, tetapi ia memenangkan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan gift manapun, namun melalui loyalitas tanpa batas dari para penggemarnya.
Oleh : H. Ahmad Nawardi, S.Ag. (Senator DPD RI Utusan Jawa Timur)

