GENERASI MUDA BALI MENJAUH DARI BANJAR: BUKAN KARENA MALAS, TAPI KARENA NGAYAH TAK LAGI DIMULIAKAN
Denpasar, Bali , seputarhukumindonesi.com-Fenomena menurunnya partisipasi generasi muda Bali dalam kegiatan banjar, khususnya pembuatan ogoh-ogoh, belakangan ramai diperbincangkan. Namun anggapan bahwa anak muda “malas” atau “tak peduli adat” dinilai keliru dan menyesatkan.
Persoalan utamanya bukan pada generasi mudanya, melainkan pada sistem pengelolaan ruang adat yang tidak lagi memuliakan nilai ngayah.
Di lapangan, terdapat sejumlah faktor nyata yang membuat anak muda semakin enggan terlibat.
Pertama, makna ngayah mengalami pergeseran rasa. Bagi banyak anak muda, kegiatan banjar hari ini lebih sering dirasakan sebagai beban kerja rutin—tanpa ruang dialog, tanpa penghargaan, dan tanpa kesempatan menyampaikan gagasan. Banjar yang seharusnya menjadi ruang belajar dan bertumbuh justru berubah menjadi ruang perintah satu arah.
Kedua, realitas waktu dan ekonomi generasi muda semakin berat. Banyak di antara mereka harus bekerja, kuliah, atau mencari penghasilan tambahan. Sementara proses pembuatan ogoh-ogoh membutuhkan waktu panjang, biaya besar, dan sering dikerjakan hingga larut malam—tanpa skema dukungan yang jelas dan adil.
Ketiga, ruang kreativitas kerap dibatasi pola lama. Ide dan konsep ogoh-ogoh sering dikunci oleh pakem tertentu, sehingga anak muda hanya dijadikan tenaga pelaksana, bukan pemilik gagasan.
Padahal ogoh-ogoh sejak awal adalah ruang ekspresi kreatif generasi muda.
Keempat, kebingungan akibat isu aturan dan pembatasan.
Beredarnya informasi viral terkait larangan, teknis pawai, hingga pembatasan ogoh-ogoh turut mematahkan semangat. Padahal secara kelembagaan, termasuk oleh Majelis Desa Adat Provinsi Bali, ogoh-ogoh justru dimaksudkan sebagai ruang kreativitas dan edukasi budaya bagi generasi muda.
Kelima, makna spiritual ogoh-ogoh semakin jarang dijelaskan secara hidup. Ogoh-ogoh bukan sekadar tontonan atau lomba estetika, melainkan simbol pembersihan bhuta kala dan refleksi sisi gelap dalam diri menjelang Hari Raya Nyepi. Ketika nilai niskala ini tak lagi ditanamkan, yang tersisa hanyalah kerja fisik tanpa kesadaran batin.
“Kalau banjar hanya menjadi tempat ‘disuruh’, ‘diatur’, dan ‘dikejar target’, wajar jika anak muda memilih menjauh,” ujar salah satu pemerhati budaya Bali, Kamis (05/02/2026).
Generasi muda sejatinya tidak anti adat. Mereka hanya menginginkan adat yang hidup, adil, dan memanusiakan.
Agar ogoh-ogoh tetap lahir dari jiwa generasi muda, banjar perlu kembali difungsikan sebagai:
– ruang belajar,
ruang dialog lintas generasi,
– ruang kreativitas,
serta ruang ngayah yang bermartabat.
– Sebab adat yang kuat bukanlah adat yang memaksa generasinya bertahan,
melainkan adat yang membuat generasinya betah untuk pulang.
Jazuli

